
Di sebuah desa yang indah bernama Desa Pelangi, hiduplah dua sahabat karib, Leo dan Luna. Leo adalah anak laki-laki yang cerdas dan selalu penuh rasa ingin tahu, sementara Luna adalah gadis periang yang pandai mengatur segala sesuatu. Desa Pelangi terkenal dengan keindahan alamnya, rumah-rumah berwarna-warni, dan kebiasaan penduduknya yang sangat suka bergotong royong.
Suatu pagi yang cerah, Pak Lurah memanggil Leo dan Luna. Wajah Pak Lurah terlihat sedikit khawatir. "Anak-anakku," katanya sambil menghela napas, "kita punya masalah. Festival panen sebentar lagi tiba, dan kita perlu membagikan hasil panen yang melimpah ini kepada seluruh warga desa. Tapi, masalahnya, kita ingin membagikannya secara adil dan merata, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Ada tumpukan besar buah-buahan dan sayuran, dan kita perlu membaginya ke dalam beberapa keranjang."
Leo dan Luna saling pandang. Mereka tahu, tugas ini tidak mudah. Mereka berdua sangat menyukai matematika, dan mereka pernah mendengar tentang "Faktor Persekutuan Terbesar" (FPB) dan "Kelipatan Persekutuan Terkecil" (KPK) dari guru mereka di sekolah. Mereka penasaran, apakah kedua konsep matematika itu bisa membantu memecahkan masalah desa?
"Pak Lurah," ujar Leo dengan penuh semangat, "kami akan membantu! Kami yakin, rahasia untuk membagikan hasil panen ini secara adil ada pada sesuatu yang kami pelajari di sekolah, yaitu FPB dan KPK!"
Luna menambahkan, "Benar, Pak Lurah! Kami akan mencari cara terbaik untuk membagi buah-buahan dan sayuran ini agar semua warga mendapatkan bagian yang sama dan keranjang-keranjangnya pun tertata rapi."

Pak Lurah tersenyum, merasa lega. "Bagus sekali, anak-anak! Saya percaya pada kalian. Sekarang, mari kita lihat apa yang kita punya."
Di depan mereka terhampar tumpukan buah-buahan yang luar biasa. Ada 12 buah apel, 18 buah jeruk, dan 24 buah pisang. Tugas mereka adalah membagikan buah-buahan ini ke dalam beberapa keranjang, dengan syarat:
Leo menggaruk-garuk kepalanya. "Hmm, ‘sebanyak mungkin keranjang’ yang sama rata… Ini pasti berhubungan dengan FPB!" serunya. "FPB itu kan faktor persekutuan terbesar. Faktor itu adalah angka yang bisa membagi habis suatu bilangan. Kalau kita cari FPB dari 12, 18, dan 24, itu artinya kita mencari angka terbesar yang bisa membagi habis ketiga angka tersebut. Angka itu nanti akan menjadi jumlah keranjang yang bisa kita buat!"
Luna tersenyum. "Betul, Leo! Ayo kita cari faktor dari masing-masing angka."
Mereka pun mulai mencatat:
"Sekarang kita cari faktor yang sama dari ketiga angka itu," kata Luna. "Faktor persekutuan dari 12, 18, dan 24 adalah: 1, 2, 3, dan 6."
Leo dengan antusias melanjutkan, "Dan yang terbesar dari faktor-faktor persekutuan itu adalah 6! Jadi, kita bisa membuat 6 keranjang yang sama rata untuk setiap jenis buah!"
Pak Lurah mengangguk kagum. "Hebat sekali, Leo dan Luna! Jadi, kita bisa membuat 6 keranjang apel, 6 keranjang jeruk, dan 6 keranjang pisang. Sekarang, bagaimana dengan jumlah buah di setiap keranjangnya?"
Leo tersenyum. "Nah, ini bagiannya. Kalau kita punya 6 keranjang untuk apel, dan total ada 12 apel, maka setiap keranjang apel akan berisi 12 apel / 6 keranjang = 2 apel. Benar kan?"
Luna menambahkan, "Untuk jeruk, kita punya 18 jeruk dibagi 6 keranjang, berarti setiap keranjang jeruk berisi 18 / 6 = 3 jeruk. Dan untuk pisang, 24 pisang dibagi 6 keranjang, berarti setiap keranjang pisang berisi 24 / 6 = 4 pisang."
"Wah, sempurna!" seru Pak Lurah. "Jadi, kita bisa membuat 6 keranjang, masing-masing berisi 2 apel, 3 jeruk, dan 4 pisang. Ini benar-benar pembagian yang adil!"
Penduduk desa bersorak gembira. Mereka mulai bekerja sama, membagi buah-buahan ke dalam 6 keranjang sesuai instruksi Leo dan Luna.
Namun, masalah belum sepenuhnya selesai. Pak Lurah teringat hal lain. "Anak-anak, selain membagikan buah-buahan untuk setiap keluarga, kita juga perlu menyiapkan tanda nama untuk setiap keluarga. Tanda nama ini akan dibagikan secara bergilir. Tanda nama keluarga A akan dibagikan setiap 3 hari sekali, tanda nama keluarga B setiap 4 hari sekali, dan tanda nama keluarga C setiap 6 hari sekali. Kita ingin tahu, kapan ketiga tanda nama itu akan dibagikan pada hari yang sama?"
Leo dan Luna terdiam sejenak, berpikir keras. "Hmm, ini sepertinya bukan FPB lagi, Pak Lurah," kata Luna. "Ini tentang kapan sesuatu akan terjadi bersamaan lagi. Ini pasti berhubungan dengan KPK!"
Leo mengangguk. "KPK itu Kelipatan Persekutuan Terkecil. Kalau kita cari KPK dari 3, 4, dan 6, itu artinya kita mencari angka terkecil yang bisa dibagi habis oleh ketiga angka tersebut. Angka itu nanti akan menjadi hari di mana ketiga tanda nama itu akan dibagikan bersamaan."
Mereka pun kembali mencatat:
"Sekarang kita cari kelipatan yang sama dari ketiga angka itu," kata Leo. "Kelipatan persekutuan dari 3, 4, dan 6 adalah: 12, 24, …"
Luna melanjutkan, "Dan yang terkecil dari kelipatan-kelipatan persekutuan itu adalah 12! Jadi, ketiga tanda nama itu akan dibagikan pada hari yang sama setiap 12 hari sekali."
Pak Lurah tersenyum lega. "Luar biasa! Berkat pemahaman kalian tentang FPB dan KPK, kita bisa menyelesaikan kedua masalah ini dengan sempurna. Festival panen kita akan berjalan lancar berkat bantuan kalian."
Leo dan Luna merasa bangga. Mereka telah menggunakan ilmu matematika untuk membantu desa mereka. Sejak hari itu, Leo dan Luna menjadi pahlawan kecil di Desa Pelangi. Mereka sering dimintai bantuan oleh warga desa untuk berbagai keperluan yang membutuhkan perhitungan yang adil dan teratur.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk di bawah pohon rindang, Leo bertanya pada Luna, "Luna, apa sebenarnya yang membuat FPB dan KPK itu berbeda?"
Luna berpikir sejenak. "Begini, Leo. FPB itu seperti mencari jumlah kelompok yang paling banyak yang bisa dibuat dari suatu barang, di mana setiap kelompok memiliki isi yang sama. Kita ingin membagi habis semua barang menjadi kelompok-kelompok yang sama. Makanya kita cari faktor terbesarnya."
"Jadi, kalau kita punya 12 apel dan 18 jeruk, dan kita mau bikin sebanyak mungkin keranjang yang isinya sama untuk setiap jenis buah, kita cari FPB dari 12 dan 18. FPB-nya 6. Berarti kita bisa bikin 6 keranjang apel (masing-masing 2 apel) dan 6 keranjang jeruk (masing-masing 3 jeruk)," jelas Leo, memastikan pemahamannya.
"Tepat sekali!" seru Luna. "Sedangkan KPK itu seperti mencari waktu atau kejadian yang akan terjadi lagi bersamaan. Kita punya kejadian yang berulang dengan interval waktu yang berbeda, dan kita ingin tahu kapan mereka akan bertemu lagi di titik yang sama. Makanya kita cari kelipatan terkecilnya."
"Oh, jadi kalau ada dua kereta berangkat dari stasiun yang sama, kereta A setiap 5 menit dan kereta B setiap 8 menit, kapan mereka akan berangkat bersamaan lagi? Kita cari KPK dari 5 dan 8, yaitu 40. Berarti mereka akan berangkat bersamaan lagi setelah 40 menit," timpal Leo dengan antusias.
Mereka berdua tertawa. Ternyata, matematika yang mereka pelajari di sekolah memiliki begitu banyak kegunaan di kehidupan sehari-hari. FPB membantu mereka membagi sesuatu menjadi kelompok-kelompok yang sama banyak dan terbanyak, sementara KPK membantu mereka menemukan titik temu dari kejadian-kejadian yang berulang.
Sejak saat itu, Leo dan Luna semakin bersemangat belajar matematika. Mereka tahu bahwa setiap konsep, sekecil apapun, pasti memiliki peran penting dalam kehidupan. Petualangan mereka di Desa Pelangi telah mengajarkan mereka sebuah pelajaran berharga: bahwa dengan pemahaman yang baik tentang FPB dan KPK, masalah apapun bisa dipecahkan dengan adil dan teratur, menjadikan Desa Pelangi semakin harmonis dan penuh kebahagiaan. Dan setiap kali mereka melihat keranjang-keranjang buah yang tertata rapi atau mendengar tentang jadwal kegiatan desa yang teratur, mereka akan tersenyum, mengingat betapa hebatnya kekuatan FPB dan KPK dalam petualangan mereka.